banner 728x250

MENJELANG PILKADES, MARWAH PERS JANGAN DIJUAL DEMI KEPENTINGAN SAAT

banner 120x600
banner 468x60

Karawang,JABAR | LINTAS- BATAS.com–
Memasuki masa pemilihan kepala desa (Pilkades), tensi politik di tingkat desa biasanya mulai meningkat. Para calon kepala desa mulai bergerak, pendukung mulai bermunculan, dan masyarakat mulai menentukan pilihan, Sabtu/17/Oktober/2026.

Di tengah situasi tersebut, ada satu hal yang harus menjadi perhatian serius: wartawan jangan sampai ikut menjadi pemain politik.

banner 325x300

Wartawan adalah pewarta. Bukan tim sukses. Bukan juru kampanye. Bukan buzzer. Dan lebih parah lagi, jangan sampai wartawan berubah menjadi “boneka” salah satu calon kepala desa.

Profesi jurnalistik memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat. Karena itu, seorang wartawan harus mampu menjaga jarak dari kepentingan politik praktis dan tidak menjadikan media sebagai kendaraan untuk mengangkat satu calon sekaligus menjatuhkan calon lainnya.

Kalau pemberitaan sudah bisa diarahkan oleh kepentingan calon, kalau judul berita dibuat untuk menguntungkan kandidat tertentu, kalau calon tertentu terus dipuji sementara calon lainnya terus dicari-cari kesalahannya, maka patut dipertanyakan: ini masih kerja jurnalistik atau sudah menjadi kampanye terselubung?

Kritik tentu diperbolehkan. Bahkan pers memang harus kritis. Tetapi kritik harus berdasarkan fakta, bukan kebencian pribadi. Begitu pula pemberitaan positif harus berdasarkan fakta, bukan karena adanya kedekatan, pemberian, fasilitas, ataupun kepentingan tertentu.

Jangan sampai amplop, kedekatan, traktiran, janji, atau hubungan pertemanan mengalahkan independensi seorang wartawan.

Semua calon kepala desa memiliki hak untuk diberitakan secara proporsional. Jika calon A diberi ruang untuk menyampaikan visi dan misi, calon B, C, dan calon lainnya juga harus mendapatkan kesempatan yang seimbang.

Jika ada tudingan terhadap seorang calon, wartawan wajib melakukan verifikasi dan memberikan kesempatan kepada pihak yang dituding untuk memberikan klarifikasi. Jangan hanya berani memberitakan tuduhan, tetapi tidak berani meminta klarifikasi.

Jangan pula menjadikan media sebagai senjata untuk membunuh karakter seseorang hanya karena berbeda pilihan politik.

Wartawan yang benar-benar profesional tidak akan takut kehilangan kedekatan dengan calon mana pun. Sebab yang harus dijaga bukan kedekatan dengan kandidat, melainkan kepercayaan masyarakat dan kehormatan profesi.

Pilkades adalah pesta demokrasi masyarakat desa. Wartawan memiliki tugas untuk mengawal proses tersebut agar berjalan transparan dan informatif, bukan ikut menentukan siapa yang harus menang.

Biarkan calon berkampanye. Biarkan masyarakat menilai. Biarkan rakyat menentukan pilihan. Wartawan cukup menyampaikan fakta.

Jangan sampai setelah Pilkades selesai, calon yang didukung kalah, kemudian wartawan ikut kehilangan muka karena selama proses pemilihan terlalu jauh menunjukkan keberpihakannya.

Lebih memalukan lagi jika masyarakat akhirnya berkata:

“Itu bukan wartawan, itu tim sukses yang membawa kartu pers.”

Kalimat seperti itu tentu sangat menyakitkan bagi insan pers. Namun, persepsi tersebut bisa muncul apabila seorang wartawan tidak mampu menjaga batas antara tugas jurnalistik dengan kepentingan politik pribadi.

Karena itu, momentum Pilkades harus menjadi ujian bagi seluruh wartawan dan media.

Apakah kita benar-benar independen atau hanya independen ketika berhadapan dengan calon yang tidak kita sukai?

Pers harus berdiri untuk kepentingan publik.

Pers harus berani mengkritik siapa pun ketika ditemukan fakta yang memang layak diberitakan. Dan pers juga harus berani menyampaikan hal positif ketika memang ada fakta positif yang patut diketahui masyarakat.

Jangan tajam kepada lawan, tetapi tumpul kepada kawan.

Jangan pula menjadikan media sebagai tempat untuk menggiring opini masyarakat secara diam-diam.

Wartawan boleh dekat dengan semua calon, tetapi tidak boleh dimiliki oleh salah satu calon.

Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih menjadi kepala desa adalah keputusan masyarakat melalui proses demokrasi.
Wartawan tidak memiliki hak untuk menentukan kemenangan seorang kandidat.

Tugas wartawan jauh lebih mulia daripada sekadar memenangkan calon. Tugas wartawan adalah menyampaikan kebenaran berdasarkan fakta, menjaga keberimbangan, memberikan ruang kepada semua pihak, serta mengawal demokrasi agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar.

Maka menjelang Pilkades, mari jaga marwah profesi.

Jangan jual independensi demi kepentingan sesaat. Jangan gadaikan nama baik media demi kepentingan calon tertentu. Dan jangan ubah kartu pers menjadi tiket untuk masuk ke dalam kepentingan politik praktis.

Wartawan tetaplah wartawan.
Pers tetaplah pers.
Calon tetaplah calon. Dan rakyat tetap menjadi pemegang hak suara.

( SUHENDAR )

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *